Beban ‘Football`s Coming Home’, Inkonsistensi, dan Kegagalan Inggris di Euro 2020

  • Whatsapp

London, sepakbola.website – Frasa ‘it’s coming home’ selalu nyaring terdengar ketika Timnas Inggris berlaga di turnamen resmi berskala besar. Tak hanya suporter di stadion, fans di media sosial pun ramai membicarakannya, terutama ketika hari pertandingan The Three Lions.

Bacaan Lainnya

Istilah ‘football’s coming home’ berasal dari lagu berjudul ‘Three Lions’ yang dinyanyikan band rock asal Liverpool, The Lightning Seeds. Tembang itu dirilis pada 1996 sebagai lagu ofisial Piala Eropa 1996 di Inggris. “Three Lions” kemudian diadopsi secara luas sebagai nyanyian dukungan ketika Inggris bertanding.

Ketika lagu itu dibuat, maksud dari ‘coming home’ adalah sepakbola (turnamen besar) kembali digelar di ‘tanah kelahiran’. Sebagian besar pendukung Inggris percaya bahwa sepakbola adalah olahraga yang lahir di tanah kelahiran mereka.

Istilah ‘sepakbola kembali pulang’ bisa diartikan kembalinya trofi turnamen antarnegara ke pelukan Timnas Inggris yang terakhir juara di Piala Dunia 1966.

Seiring kesuksesan timnas Inggris menembus final Piala Eropa 2020, dengung ‘football’s coming home’ semakin lantang. Kepercayaan diri yang disuarakan melalui lagu tersebut perlahan berubah menjadi keangkuhan. Potongan lirik lagu tersebut acap dituduh sebagai wujud kesombongan Inggris, Stereotipe bahwa (persepakbolaan) Inggris picik dan angkuh pun masih diamini banyak pihak.

“Arogansi itu tidak terlalu berhubungan dengan para pemain dan tim nasional Inggris, tetapi orang-orang di sekitar mereka, sejumlah jurnalis, komentator, dan sebagainya. Mereka seharusnya lebih rendah hati dan menghormati lawan,” kata kapten Kroasia, Luca Modric beberapa waktu lalu.

Bukan hanya Modric dan Kroasia yang memiliki anggapan demikian atas Inggris. Winger asal Wales, Gareth Bale menyatakan hal senada.

“Mereka (Inggris) membesar-besarkan diri sebelum melakukan apa pun,” kata bintang Wales tersebut.

Pernyataan sinis sejumlah pihak nyatanya tidak mempengaruhi optimisme publik Ratu Elizabeth. Melawan Italia di partai puncak, banyak orang memplesetkan frasa tersebut menjadi ‘Fotball’s coming Rome’.

Entah terlalu bersemangat atau terbebani dengan optimisme tersebut, Timnas Inggris justru tampil antiklimaks pada laga final di Stadion Wembley, Senin (12/7/2021) dini hari.

Pasukan Gareth Southgate unggul lebih dulu lewat Luke Shaw saat laga belum genap berjalan 2 menit. Namun, ‘its Coming Home’ hanya bergaung di stadion selama satu babak. Italia mampu menyamakan kedudukan melalui Leonardo Bonucci pada babak kedua.

Skor pertandingan tetap bertahan 1-1 hingga akhir babak perpanjangan waktu yang kedua. Alhasil, pemenang pertandingan harus ditentukan lewat adu penalti.

Sayangnya, tiga pemain pengganti Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka gagal secara beruntun. Inggris akhirnya harus mengakui kekalahan dengan skor 2-3 dari Italia.

Usai laga, kapten Timnas Inggris Harry Kane menilai faktor konsistensi sebagai biang kerok kegagalan, sehingga laga harus dilanjutkan hingga adu penalti.

“Kami bermain melawan tim yang sangat bagus. Kami memulai dengan awal yang sempurna. Namun, kami terkadang sedikit menurun dan jatuh dalam permainan lawan. Mereka menguasai banyak bola. Namun, kami terlihat cukup memegang kendali dan mereka tidak menciptakan terlalu banyak peluang,” kata Kane, dilansir dari BBC.

Kane mengatakan bahwa para pemain sudah melakukan segalanya untuk memenangkan pertandingan. Akan tetapi, hasil akhir belum berpihak pada timnya.

“Penalti adalah penalti. Kami melewati proses. Para pemain melakukan semua yang mereka bisa, itu bukan malam kami,” tambah pemain Tottenham itu.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *